Sabtu, 10 November 2012

Berita Wisata Korea Selatan


Pulau Jeungdo, Pulau Dengan Alam yang Mempesona
Pulau Jeungdo, Provinsi Jeollanam adalah salah satu kota yang mendapatkan predikat “slow city” sejak tahun 2008. Jeungdo memiliki sumber air bersih yang kemurnian alam yang dikagumi banyak pihak. Oleh UNESCO, pulau ini menjadi kawasan konservasi keanekaragaman hayati.
Salah satu keanekaragaman hayati yang ada di Jeungdo adalah hamparan ladang garam terbesar di Korea. Berada di Taepyeong kita bisa melihat dari dekat bagaimana kehidupan para penghuni desa nelayan. Mengunjungi Taepyeong kita bisa menambah pengetahuan tentang garam di museum garam dan paket-paket wisata lainnya yang berkaitan dengan proses pembuatan garam. Observatorium di belakang Taepyeong menyediakan pemandangan panorama pantai yang luas  dan desa yang indah. Disini berdiri 60 bangunan penyimpan garam yang sudah tua.
Sementara itu, liburan di Jeungdo tidak hanya berkutat dengan apa yang ada di pulau ini saja. Ada sekitar 90 pulau tak berpenghuni yang letaknya berdekatan dengan Jeungdo. Selain mengetahui seluk beluk produksi garam, kita bisa menghabiskan hari di Jeungdo dengan bermain di pnatai Wujeon yang memiliki pemandangan cakrawala yang indah. Selain menikmati aneka keindahan alamnya, kekayaan laut Jeungdo ini menyediakan ikan dan kerang serta makanan laut lainnya. Menyantap seafood di Jeungdo merupakan aktivitas wisata yang tak boleh dilewatkan.
Oya, setiap bulan Agustus, Jeungdo menjadi tuan rumah dari Jeungdo Island Mudflats Festival. Gelaran ini penuh dengan acara-acara yang berhubungan dengan lumpur. Berkunjung ke Jeungdo bisa dilakukan kapan saja sepanjang empat musim yang bergulir di Korea.
Cara sampai ke lokasi : Untuk mencapai Jeungdo, pertama-tama Anda harus menuju Gwangju atau Mokpo dengan bus. Sesampainya di Gwangju atau Mokpo Anda harus menumpang bus menuju Jido-eup. Dari Jido-eup Anda bisa naik bus lagi atau taxi ke dermaga Songdo. Dari Songdo ke Jeungdo membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Desa Samjicheon, Warganya Hidup dari Alam


Desa Samjicheon adalah desa yang termasuk dalam katagori Slow City di Korea Selatan. Apa keistimewaannya?
Samjicheon terletak di Provinsi Jeolla Selatan dan sejak tahun 2007 mendapat predikat Slow City. Di desa yang berpenduduk sekitar 500 keluarga ini kita bisa melihat rumah-rumah Korea tradisional yang disebut dengan hanok. Warga Samjicheon benar-benar hidup dengan memaksimalkan apa yang ada di sekitar mereka. Aneka sajian untuk makan sehari-hari diambil dari kebun. Panganan sebagai kudapan adalah kue-kue tradisional Korea. Bahkan untuk berpergian mereka menggunakan gerobak sapi.
Salah satu kudapan yang paling terkenal dari Samjicheon adalah gula-gula yang terbuat dari beras. Warga Samjicheon juga memproduksi hangwa.Hangwa adalah biskuit tradisional Korea yang terbuat dari produk pertanian yang cara penanamannya bebas dari bahan kimia. Hangwa di Samjicheon terbuat dari beras, kacang-kacangan, wijen dan bahan-bahan lain yang diramu dengan jocheong (sirup yang terbuat dari biji-bijian). Hangwa dikemas dalam sebuah kotak yang indah terbuat dari hanji (kertas tradisional) dan bambu atau kayu.
Dibalik keheningan Samjicheon, desa ini merupakan daerah pertanian yang subur. Pada pagi hari, Anda akan melihat penduduk Samjicheon merawat tanaman di halaman mereka. Ada yang memang berprofesi sebagai petani yang sedang mengerjakan ladang padinya, ada juga yang lebih suka menanam sayur mayur dan buah seperti stroberi, ubi jalar, kentang dan masih banyak lagi. Hasil ladang dan kebun itu digunakan untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari. Selain hasil alam yang melimpah, Samjicheon memberikan pengalaman hidup yang jarang kita temui sekarang ini. Warga Samjicheon sangat akrab satu dengan yang lain. Mereka saling sapa dan bantu, hal yang jarang sekali kita temui di perkotaan.
Beberapa warga yang tinggal di Samjicheon bukanlah asli desa ini. Diantara mereka justru berasal dari kota dan karena ingin mencari ketenangan mereka memutuskan pindah ke Samjicheon. Profesor Werner Sasse misalnya. Ia adalah pengajar Korea keturunan Jerman. Menurutnya Samjicheon memberikan suasana yang tenang untuk belajar dan melukis.
Cara sampai ke lokasi : Untuk mencapai Samjicheon Anda bisa naik bus nomor 303 dari Gwangju Train Station. Turunlah di pos polisi Changpyeong dan berjalanlah beberapa saat menuju desa Samjicheon. Alternatif kedua adalah dengan naik bus dari Damyang Intercity Bus Terminal dan meneruskan perjalanan dengan taksi atau bus lokal ke Samjicheon

Kwanghan Pavilion, Tempat Untuk Merayakan Kesetiaan Cinta

Kwanghan pavilion disebut juga dengan nama Chunhyang. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Sejong, bangunan ini pernah terbakar saat bencana Jonggyu namun diperbaiki pada tahun 1638 dan utuh hingga sekarang. Di Kwanghan berdiri sebuah kolam teratai yang dikelilingi oleh pagar. Yang paling menarik dari tempat ini adalah Chunhyangjeon yang merupakan salah satu kisah rakyat Korea yang paling terkenal, khususnya di daerah Namwon, Jeollabuk-do dimana Kwanghan Pavilion berdiri.
Chunhyangjeon adalah kisah cinta antara anak seorang penghibur bernama Song Chunhyang dengan Lee Doryong. Lee Doryong adalah anak Pyon seorang hakim kepala di kota itu. Mereka pertama kali bertemu dan saling jatuh hati di Kwanghan Pavilion. Namun cinta mereka terhalang perbedaan kelas sosial. Layaknya cerita dalam kisah Romeo dan Juliet, Song Chunhyang dan Lee Doryong tetap saling setia dan menyakini bahwa yang mereka jalani ini adalah bagian dari perjalanan cinta sejati. Hingga pada akhirnya, Chunhyang memutuskan untuk bunuh diri karena tidak pernah bisa menikah dengan Lee Doryong. Mengetahui kekasihnya meninggal maka ia pun pergi dengan kekecewaan karena hasrat cintanya tidak terpenuhi. Ya, pada masa itu, setiap pasangan yang berbeda kasta memang tidak pernah mungkin bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan. Menurut catatan dari pemerintah setempat, semua orang-orang yang ada di cerita itu nyata adanya.
Kisah cinta yang mengharu pilu ini kemudian diabadikan melalui bangunan kuil Chunhyang yang masih berada di kawasan yang sama. Kuil ini dibangun untuk menghormati dan mengenangkan perjuangan cinta Chunhyang kepada Lee Doryong. Pintu masuk menuju kuil ini bernama “kuil Chunghyang, wanita berbudi luhur”. Para pengunjung berduyun-duyun untuk melakukan ritual keagamaan dan tak jarang menyelipkan doa agar segera menemukan pasangan jiwa.
Selain kuil Chunhyang, kita juga bisa mengunjungi sebuah rumah yang bernama “Wolmae”. Wolmae adalah nama ibu Chunhyang. Desain rumah mungil ini bergaya khas periode saat Raja Sejong memerintah. Di halaman bagian dalam berdiri sebuah kolam kecil dan taman.
Hal terakhir yang bisa ktia lihat adalah kolam yang mendapat limpahan air dari sungai Yochon dan kerap dihiasi dengan bunga teratai yang tumbuh di beberapa sudutnya. Diatas kolam dibangun sebuah sebuah jembatan yang disebut dengan jembatan Ojak. Jembatan ini melambangkan kisah cinta Chunhyang dan Lee Doryong. Kepercayaan yang berkembang mengatakan pasangan yang berjalan di atas Ojak akan menjalani kehidupan yang bahagia dan mempunyai anak-anak yang selalu diberkahi.
Kwanghan Pavilion bisa Anda kunjungi sejak pukul 8 pagi hingga 10 malam selama musim panas. Sedangkan pada musim dingin tempat ini tutup lebih cepat yakni pukul 7 malam. Bagi pengunjung dewasa, Anda harus membayar tiket masuk sebesar 1600 Won, remaja 900 Won dan anak-anak 600 Won.
Cara sampai ke lokasi : Untuk mencapai tempat ini kita bisa kita bisa menumpang bus dari Seoul Central City Terminal menuju Namwon Express Bus Terminal. Sesampainya disini Anda bisa naik bus lokal menuju Kwanghan Pavilion.

Cheongsando, Slow City Pertama di Asia

Ingin melarikan diri dari segala rutinitas dan kesibukan pekerjaan? Cheongsando adalah pilihan yang tepat. Cheosangdo adalah pulau yang ada di Korea Selatan dan “dinobatkan” menjadi kota lambat pertama di Asia. Penasaran?
Slow city atau kota lambat bukanlah kebalikan dari “kota cepat”. Kota lambat adalah istilah untuk menjelaskan kondisi sebuah kota yang warganya menjalani kehidupan dengan tenang, menghormati  lingkungan, alam waktu dan diri sendiri. Kota lambat menggambarkan tetang bagaimana hidup yang harmonis antara manusia dengan alam. Karena memenuhi segala hal itulah mengapa Cheongsando kemudian ditetapkan sebagai kota lambat pertama yakni pada tahun 2007.  Pulau ini tepatnya berada di Provinsi Jeollanam.
Begitu sampai di Cheongsangdo Anda akan disambut dengan dua mercusuar yang menyinari pulau ini bagaikan senyuman yang merekah. Mercusuar ini adalah landmark pulau yang keberadaannya menjadi buruan para wisatawan yang hobi fotografi. Selain bisa mengagumi mercusuar, kita juga dapat menyusuri jalan-jalan yang ada di Cheongsande. Di salah satu sudut jalan tersebut Anda akan melihat lokasi syuting serial Waltz of Spring. Beberapa set yang digunakan syuting adegan Waltz of Spring bisa kita lihat disini, termasuk jalanan yang digunakan para pemainnya bernyanyi Jindo Arirang. Hingga kini set syuting yang digunakan serial Waltz of Spring masih utuh. Foto-foto karakater yang ada di serial itu pun masih dipasang di rumah yang menjadi set utama drama ini.
Cheongsangdo juga terkenal dengan panoramanya yang indah saat musim semi. Bunga-bunga berwarna kuning bermekaran selaras dengan keseluruhan panorama pulau. Salah satu daya tarik utama dari pulau ini adalah sunset di pantai Jiri. Di sepanjang pantai ini terdapat rumah-rumah warga yang bisa kita inapi. Saat pagi menjelang, datanglah ke pantai Jinsan dan Pantai Sinheung untuk melihat matahari terbit.
Cara sampai ke lokasi : Untuk menuju Cheongsando kita bisa menggunakan feri dari terminal Wando. Feri ini hanya berangkat setiap pukul 07.00, 08.00, 11.00, 12.00, 14.30, 17.20. Sedangkan jadwal keberangkatan feri  jika dari arah sebaliknya adalah 06.50, 07.00, 09.30, 13.00, 16.00, 17.00 dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.

Aneka Rumah Kuno di Naganeupseong Folk Village

Ingin melihat bagaimana masyarakat Korea masa lampau hidup? Datanglah ke Naganeupseong village. Serpihan sejarah itu ada disini. Di kawasan ini terdapat rumah-rumah, kantor pemerintahan, penginapan dan benteng yang dibangun oleh Dinasti Chosun pada tahun 1397 di atas lahan seluas  22,6 km persegi.
Naganeupseong Folk Village terletak di Propinsi Jeollanam-do. Di desa ini hidup sekitar 100 keluarga dengan rumah tinggal yang masih sangat tradisional. Ruangan seperti dapur dan berandanya sangat kental dengan gaya tradisional Korea. Belum lagi ruangannya yang berlantaikan tanah liat dan beratapkan jerami. Diantara rumah-rumah kuno ini, ada 9 rumah yang ditetapkan sebagai warisan budaya.
Menyurusi desa tradisional ini sangat menyenangkan. Kita bisa berjalan diantara kelokan gang-gang yang menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya. Beberapa rumah tak berpenghuni lagi terdapat patung-patung manusia yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana kehidupan tempo dulu. Beberapa rumah yang dihuni warga kita bisa melihat aktivitas mereka sehari-hari dari dekat. Mereka juga menawarkan paket homestay selama 1 malam untuk mereka yang ingin lebih banyak terlibat dan berinteraksi dengan penduduk lokal.
Selain deretan rumah-rumah kuno, di Naganeupseong berdiri sebuah monumen Jenderal Im Kyeong-Eop (1594 – 1646). Pada setiap bulan purnama yang pertama di awal tahun, warga disini mengadakan upacara ritual dan perayaan di monumen ini. Beberapa permainan rakyat yang digelar untuk menandai perayaan ini adalah melompat di papan jungkat jungkit, ayunan dan beberapa kegiatan lainnya. Monumen yang sangat dikagumi oleh warga Naganeupseong tersebut berada di sisi timur benteng  yang disebut Nakpung-ru. Dari benteng ini Anda akan melihat ada jalan lurus menuju kota, ikutilah jalan ini dan Anda akan melihat monumen Jenderal Im Kyeong-Eop.
Anda bisa mengunjungi Naganeupseong setiap pukul 9 pagi hingga 5 sore. Khusus selama bulan Februari – April dan November Naganeupseong tutup pukul 6 sore. Sedangkan pada bulan Mei – Oktober, pedesaan ini bisa Anda kunjungi sejak pukul 8.30 pagi hingga 6.30 sore. Harga tiket yang harus Anda bayar untuk mengunjungi tempat ini adalah 2000 Won untuk pengunjung dewasa, 1500 Won untuk remaja dan 1000 Won untuk anak-anak. Naganeupseong folk village dapat ditempuh dengan bus dari Dong Seoul Bus Terminal atau Seoul Central City Bus Terminal menuju Suncheon Bus Terminal. Sesampainya di Suncheon berjalanlah ke arah halte bus Palmaro dan naiklah bus nomor 61, 63 atau 68 menuju Naganeupseong.

Hijaunya Hutan Bambu, Damyang

Hutan ini lain daripada yang lain. Hutannya tidak dihuni bermacam-macam pohon tetapi hanya satu jenis tumbuhan saja yakni bambu. Ya, ini adalah hutan bambu bernama Juknokwon di Damyang, Provinsi Jeollanam, Korea Selatan.
Juknokwon tepatnya berada dibelakang gunung Soenginsan. Jadi Anda sudah bisa membayangkan bagaimana nuansa alam dan keindahan yang terpancar dari tempat ini. Di taman bambu ini kita bisa melihat air terjun buatan yang indah, paviliun, tempat khusus bagi pejalan kaki dan ruang pameran ekologi.  Bambu-bambu yang tumbuh subur di taman ini mempunyai bentuk yang sangat lurus. Ruas-ruasnya nyaris tak membuat pohon bambu ini bengkok sedikitpun.  Sayangnya, beberapa bambu yang berada di kawasan yang sering dilewati pengunjung mengalami sedikit kerusakan karena penuh goresan aneka tulisan karya tangan jahil pengunjung. Tulisan-tulisan itu kebanyakan berisikan ungkapan cinta kepada pasangan. Mungkin mereka ingin meniru gembok cinta yang ada di N Seoul Tower.
Untuk mengunjungi dan menikmati semua wahana yang ada di tempat ini Anda membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Saat malam hari, panorama taman bambu ini masih bisa dinikmati karena lampu-lampu yang dipasang. Para pengunjung bisa berjalan-jalan saat matahari sudah tenggelam. Sesekali angin berhembus dan menggerakkan pohon-pohon bambu ini. Suara yang dihasilkan dari gesekan daun dan pohon tersebut ternyata cukup ampuh membuat pengunjung betah berlama-lama di Juknokwon. Oya, jika Anda perhatikan, antara pohon bambu yang tumbuh di Juknokwon ini terdapat pucuk teh hijau yang tumbuh dari embun yang menetes dari daun bambu yang dikenal dengan teh Jukro. Observatorium Juknokwon yang terletak di kawasan sesekali mengadakan acara mencicipi teh ala Jukro.
Saat akhir pekan, kunjungan wisatawan ke Juknokwon meningkat tajam. Sebagian dari mereka ingin merasakan sore yang serasa “melambat” disini agar keesokan harinya kembali siap menghadapi rutinitas kerja.  Yang lebih menarik lagi adalah adanya toko sovenir yang menjual aneka barang yang terbuat dari bambu.
Untuk masuk ke taman bambu ini, Anda harus membayar tiket masuk seharga 2000 Won untuk pengunjung dewasa, 1500 Won untuk remaja dan 1000 Won untuk anak-anak. Khusus untuk wisatawan yang berusia dibawah 6 tahun dan diatas 65 tahun tidak dikenakan biaya masuk. Untuk mencapai tempat ini Anda bisa naik bus lokal nomor 311 di Gwangju Gwangcheon Terminal dan turun di Jungnogwon. Alternatif lainnya dalah dengan naik bus nomor 303 atau 311 dan turun di Jungnogwon.


Peternakan Daegwallyeong, Padang Rumput Terbesar di Asia

Peternakan Daegwallyeong Samyang adalah peternakan dengan padang rumput terbesar di Asia. Di padang rumput yang terletak di dataran tinggi inilah sejumlah domba diternak. Peternakan Daegwallyeong Samyang terletak di Pyeongchang-gun, Gangwon.
Untuk mencapai tempat ini, Anda harus naik bus dari Dong Seoul Bus Terminal menuju Hoenggye. Sesampainya di Hoenggye naiklah taksi menuju peternakan Daegwallyeong.
Pemandangan dari dataran tinggi Daegwallyeong ini sangat luar biasa. Jika kita berkunjung ke Daegwallyeong Observatory di pagi hari, kita bisa melihat matahari terbit yang melampaui puncak gunung Odaesan. Pemandangan domba-domba yang sedang makan rumput dan minum di danau akan sering kita temui disini. Danau yang kerap disinggapi ternak-ternak itu bernama Samjeongho.
Tempat ini selain sebagai peternakan domba, juga sangat populer menjadi destinasi istimewa saat musim dingin. Dimana saat itu pemandangan padang rumput ini berubah menjadi padang salju yang menakjubkan. Jika berkunjung pada setiap Maret-April kita akan melihat domba-domba ini “gundul” karena bulunya dicukur untuk bahan pembuatan mantel wol. Di sepanjang 1,2 km jalan yang bisa kita susuri di peternakan Daegwallyeong ini Anda bisa membeli sekeranjang jerami terlebih dahulu untuk memberi makan domba-domba tersebut. Panorama hamparan hijau plus domba yang dengan tenang merumput ini akan semakin indah dengan hadirnya bunga-bunga liar. Tidak itu saja, bagi penyuka daging, Anda harus merasakan aneka masakan dengan bahan dasar daging domba yang lezat.
Karena peternakan ini sangat luas, Anda bisa mengitarinya dengan mobil atau sepeda. Dengan mobil, Anda bisa menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk melihat seluruh keindahan Daegwallyeong, sedangkan jika dengan sepeda akan membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam. Peternakan ini bisa Anda kunjungi sejak pukul 8.30. Pada bulan November hingga Januari, peternakan dibuka sampai pukul 4 sore. Sedangkan para Februari hingga Oktober buka hingga pukul 4.30 sore. Pada bulan Maret hingga April dan September tutup pada pukul 5 sore. Khusus untuk kunjungan bulan Mei-Agustus, dibuka hingga puul 5.30 sore. Tiket masuk ke peternakan Daegwallyeong adalah 7000 Won untuk pengunjung dewasa dan 5000 Won untuk anak-anak.

Adu Banteng, Tontonan Paling Diminati di Korea

Cheongdo Bullfighting Festival adalah salah satu pertunjukkan paling diminati di Korea.  Adu banteng merupakan tradisi kuno Korea yang keberadaannya tidak sekedar turnamen biasa. Jika dulu adu banteng hanyalah pertandingan biasa, kini berkembang menjadi acara festival bertaraf  internasional. Ratusan ribu wisatawan melakukan perjalanan ke Cheongdo, Gyeongsangbuk-do untuk melihat adu banteng ini. Bahkan ada yang mengklaim adu banteng di Cheongdo ini jauh lebih diminati ketimbang acara serupa di Spanyol.
Festival ini diselenggarakan selama 5 hari, setiap harinya pertandingan dilaksanakan selama 9 jam. Sajian utama dari festival ini tentu saja adu banteng, kompetisi rodeo dan lomba naik kereta banteng. Ada juga pertunjukan khusus yang dipalukan oleh tim rodeo dari luar negeri. Kompetisi yang dihelat sejak tahun 1999 ini biasanya akan mempertandingkan setidaknya 90 ekor banteng. Di dalam stadion dengan kapasitas 10 ribu orang ini banteng-banteng itu berjuang untuk mendapatkan hadiah beberapa juta Won. Pertandingan biasanya diawali masuknya banteng di sudut yang berbeda. Tidak seperti adu banteng yang ada di Spanyol, di Cheongdo tidak memakai matador.
 Oya, yang menarik juga adalah soal bagaimana melatih banteng-banteng itu agar bisa menjadi petarung yang tangguh. Di Korea terdapat pelatih-pelatih banteng yang dengan sabar melatih binatang aduan ini untuk mempersiapkan diri menyongsong pertandingan. Menurut mereka, banteng dengan leher yang tebal, tubuh pendek dan tanduk yang besar adalah banteng yang cocok untuk mengikuti festival ini. Nah, selain adu banteng, pengunjung bisa melihat berbagai pameran seperti pameran pertanian Cheongdo, pameran sejarah adu banteng, pameran foto dan masih banyak lagi.
Jika Anda berminat untuk menjadi bagian dari kemeriahan ini, Cheongdo Bullfighting Festival biasanya digelar pada bulan April. Untuk mencapai arena festival Anda bisa baik kereta dari Seoul Station menuju Cheongdo Station dengan waktu tempuh 4 jam 20 menit. Dari Cheongdo Station, lanjutkan perjalanan Anda dengan bus menuju tempat festival. Selama di Cheongdo Anda bisa menginap di hotel yang berada di Daegu atau Busan karena desa ini berada diantara 2 kota tersebut. 


Boseong, Perkebunan Teh Terbaik di Korea

Teh pertama kali dibudidayakan di China lebih dari 2.500 tahun yang lalu. Tak lama kemudian, teh hijau diperkenalkan di Korea. Perkembangan budidaya teh di Korea juga memberikan warna pada budaya Korea. Seperti yang ditunjukkan dengan adanya upacara minum teh. Penyebutan “teh” sendiri diawali pada abad ke-7 dan pemerintahan Ratu Seondeok dari Kerajaan Silla. Selanjutnya, biji teh dari China ditanam di kaki gunung Jirisan.
Nah, salah satu perkebunan teh terbaik di Korea adalah Boseong. Perkebunan ini terletak di pantai barat daya dari Semenanjung Korea, tepatnya di Provinsi Jeollanam. Iklimnya sangat ideal sebagai tempat untuk budidaya teh hijau. Didirikan pada tahun 1957 dengan bukit-bukit yang mencapai ketinggian 350 meter. Perkebunan-perkebunan hijau ini menutupi lereng bukit seperti selimut zamrud. Jika beruntung, kita bisa melihat kabut pagi tergantung di lereng bukit dan memberikan pemandangan yang sangat romantis. Dari segi produksi teh, sekitar 40 persen teh Korea diproduksi di Boseong.
Oya, karena keindahannya, Boseong sering digunakan untuk lokasi syuting beberapa iklan dan serial tv. Waktu yang paling tepat untuk mengunjungi Boseong adalah pada bulan Mei-Agustus. Setiap musim dingin tiba, Boseon menjadi tuan rumah festival teh hijau yang diselenggarakan setiap bulan Mei. Pada saat itulah perkebunan teh ini dihiasi dengan lampu-lampu di berbagai sudutnya.
Sementara itu, sebelah timur dari Boseon di jalan menuju Suncheon terdapat desa Beolgyo. Beolgyo adalah desa yang menjadi setting utama dari novel berjudul The Taeback Mountains karangan Jo Jung Rae. Novel ini kemudian difilmkan oleh Im Kwon-taek pada tahun 1994. Beberapa hal yang diceritakan oleh Jo dalam novelnya – dan juga filmnya – masih bisa kita temukan di Beolgyo hingga kini. Masih ada penginapan Inn Namdo, bank Jepang dan jembatan Sohwa. Desa ini sering dikunjungi wisatawan yang membaca novel tersebut.
Untuk mencapai Boseong, kita harus naik bus yang berangkat dari Seoul Express Bus Terminal menuju Boseong. Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 5 jam. Alternatif kedua adalah menumpang kereta dari Yongsan Station menuju Suncheon. Sesampainya di Suncheon, Anda harus melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Boseong.

Sunrise di Puncak Chungwang, Jirisan

Jirisan adalah taman nasional pertama di Korea Selatan. Gunung ini mempunyai banyak puncak dan sungai yang bersih mengalir di sepanjang gunung. Taman Nasional Jirisan membentang di lebih dari 5 kota dan tiga provinsi sekaligus menjadi rumah bagi flora dan fauna. Jirisan yang dikenal dengan “ibu” dari semua gunung di Korea ini terletak di Sicheon-myeon dan Samjang-myeon.
Jirisan ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1967. Pemadangannya yang cantik membuat Jirisan menjadi salah satu gunung paling terkenal di Korea. Puncak utama di Jriisan adalah Chunwang yang tingginya mencapai 1.915 meter berada di wilayah Samjang-myeon, Sancheong-gun, Gyeongsangnam-do.  Pemandangan puncak ini luar biasa indah. Sunrise-nya di Chunwang ini mengundang kekaguman para pendaki. Seolah-olah sedang menyaksikan hari pertama dunia ditambah lagi dengan bebatuan yang megah, air terjun serta pohon-pohon. Selain pemandangan sunrise yang menggembirakan, puncak Chunwang juga memiliki pesona sunset yang magis. Menyaksikan matahari tenggelam di sudut ini merupakan pengalaman wisata yang luar biasa. Kita juga bisa bersenang-senang sambil menghirup udara pegunungan yang bersih serta minum air dingin dari Chunwang spring yang terletak di 300 meter dibawah puncak Chunwang.
Di Jirisan juga terdapat Banyabong dan Nogodan yang merupakan tempat bagi lebih dari 10 kuil yang terkenal. Jika berkunjung ke Jirisan, setidaknya ada 10 keindahan yang bisa kita nikmati termasuk berbagai puncak dan lembahnya, seperti lembah Baemsagol. Beberapa pihak bahkan mengatakan bahwa Jirisan adalah taman nasional dengan hutan perawan paling terawat dengan gunung yang megah dan suasana mistis yang kental. Berbagai species hewan dan tumbuhan menjadi penghuni taman nasional ini. Oya, Jirisan juga merupakan tempat budidaya teh di Korea.
Selain populer karena keindahan alamnya, kawasan Jirisan juga menjadi tuan rumah festival yakni Jirisan Peace Festival. Festival ini sudah digelar sejak November tahun 1969. Festival ini dihelat untuk menyembuhkan luka warga kawasan Jirisan dari kenangan sejarah Perang Korea. Beberapa acara yang digelar adalah ritual keagamaan yang dulunya digelar di kuil Sungmo-sa. Namun karena di kuil ini cuacanya sering berubah tak terduga maka pelaksanaan ritual di pindah ke kawasan Sinsun-nurdle yang letaknya berdekatan dengan puncak Junbong. Selama ritual ini dilaksanakan, warga setempat dimandikan dan menyucikan diri. Selanjutnya menggantungkan geumjul atau sejenis tali jerami untuk mengusir roh jahat.
Untuk mencapai Jirisan, Anda bisa naik bus antar kota dari Jinju Intercity Bus Terminal menuju kuil Daewonsa. Atau, Anda bisa menempuh rute lain dengan naik bus dari Jinju Intercity Bus Terminal menuju Jungsan-ri.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Princess In The Wonderland Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template